Color Blindness dan Desain: Saat Warna Bukan Bahasa Universal
Color Blindness dan Desain: Saat Warna Bukan Bahasa Universal
Bayangkan Anda sedang mengikuti ujian daring. Di layar muncul dua tombol: satu merah, satu hijau. Instruksinya: “Klik hijau jika setuju, merah jika tidak.” Tapi bagi Anda, keduanya terlihat sama persis abu-abu kusam. Jantung berdebar. Anda menebak. Dan ternyata salah.
Ini bukan skenario fiksi. Ini realitas 350 juta orang di dunia yang hidup dengan buta warna termasuk mahasiswa di kampus kita.
Warna yang Tak Terlihat oleh Semua Mata
Buta warna bukan tentang melihat dunia dalam hitam-putih. Sebagian besar kasus terutama tipe deuteranopia adalah ketidakmampuan membedakan merah dan hijau [1]. buta warna parsial hijau paling banyak dialami oleh penderita buta warna dibandingkan dengan penderita buta warna merah atau protanopia [2]. Bagi mereka, lampu lalu lintas bukan tiga warna, tapi tiga tingkat kecerahan. Infografis yang indah bagi kita bisa jadi teka-teki visual bagi mereka.
Yang lebih mengejutkan: banyak dari mereka tidak menyadari kondisinya hingga dewasa. Mereka belajar “menebak” berdasarkan konteks misalnya, “lampu atas pasti merah”. Tapi sistem digital yang buruk menghancurkan asumsi itu. Dan di situlah masalah dimulai.
Dalam perkuliahan Interaksi Manusia dan Komputer (IMK) di Universitas Muhammadiyah Riau (www.umri.ac.id), kami diajarkan bahwa desain yang baik bukan hanya untuk pengguna ideal, tapi untuk manusia nyata dalam kondisi nyata. Warna, jika digunakan sembarangan, justru menjadi penghalang bukan penunjang.
Lebih jauh lagi, buta warna bukan satu-satunya tantangan. Kondisi seperti low vision (penglihatan rendah), glaukoma, atau bahkan kelelahan mata akibat layar juga memengaruhi persepsi warna. Artinya, prinsip desain yang ramah buta warna otomatis menguntungkan semua pengguna termasuk mereka yang sedang berada di bawah sinar matahari langsung atau menggunakan ponsel murah dengan reproduksi warna buruk.
Ketika Desain Mengandalkan Warna Saja
Banyak antarmuka digital masih bergantung pada warna sebagai satu-satunya pembeda. Sistem voting online menampilkan opsi “Setuju” dalam hijau dan “Tidak Setuju” dalam merah tanpa ikon atau teks. Aplikasi manajemen proyek menggunakan garis merah untuk tugas terlambat dan hijau untuk tugas selesai tapi tanpa label.
Bagi pengguna dengan penglihatan normal, ini tampak jelas. Tapi bagi pengguna buta warna, informasi tersebut hilang sepenuhnya. Mereka dipaksa menebak dan tebakan sering kali salah.

Masalah ini diperparah oleh tren desain minimalis yang menghilangkan elemen visual lain demi “kebersihan”. Tapi kebersihan yang mengorbankan kejelasan bukanlah desain yang baik itu adalah kemewahan yang eksklusif.

Contoh nyata terjadi di platform e-learning nasional. Saat kuis, jawaban benar ditandai dengan latar hijau, salah dengan latar merah tanpa teks “Benar/Salah”. Mahasiswa buta warna tidak tahu apakah mereka menjawab dengan tepat, sehingga tidak bisa belajar dari kesalahan. Ini bertentangan dengan tujuan pendidikan itu sendiri.
Bahkan di media sosial, infografis viral sering menggunakan skema merah-hijau untuk menunjukkan data politik, ekonomi, atau kesehatan. Tanpa simbol tambahan, pengguna buta warna tidak bisa memahami pesan dan akhirnya merasa terasing dari diskusi publik.
Dampak Nyata: Dari Frustrasi hingga Diskriminasi Digital
Ketika informasi tidak dapat diakses, dampaknya bersifat emosional, akademik, dan sosial.
Secara emosional, pengguna merasa frustrasi, malu, bahkan menyerah. Mereka mulai menghindari platform tertentu karena takut salah. Secara akademik, mahasiswa buta warna bisa gagal memahami materi jika diagram hanya mengandalkan warna padahal mereka memiliki kemampuan yang sama.
Secara sosial, mereka terisolasi dari diskusi digital. Bayangkan infografis di media sosial yang menggunakan skema merah-hijau untuk menunjukkan data politik. Tanpa simbol tambahan, pengguna buta warna tidak bisa ikut berdiskusi bukan karena ketidaktahuan, tapi karena desain yang mengucilkan.
Ini bukan sekadar ketidaknyamanan ini adalah bentuk diskriminasi digital yang tidak disengaja, tapi nyata. Yang lebih memprihatinkan, banyak pengembang tidak menyadari dampak ini karena mereka sendiri tidak mengalami gangguan penglihatan. Akibatnya, sistem dirancang untuk “rata-rata”, padahal tidak ada pengguna rata-rata yang ada hanyalah individu dengan kebutuhan unik.
Prinsip Desain yang Ramah Buta Warna

Desain yang inklusif tidak sulit ia hanya membutuhkan kesadaran dan niat. Berikut prinsip utamanya:
- · Pertama, jangan pernah gunakan warna sebagai satu-satunya pembeda. Selalu kombinasikan dengan ikon, teks, atau pola. Misalnya, gunakan hijau benar dan merah silang bukan hanya warna. Ini adalah prinsip dasar WCAG (Web Content Accessibility Guidelines) Level A.
- · Kedua, uji dengan simulator buta warna. Tools gratis seperti Color Oracle atau Sim Daltonism memungkinkan Anda melihat antarmuka seolah-olah Anda buta warna. Ini adalah langkah sederhana yang sangat berdampak dan sering diabaikan oleh tim pengembang.
- · Ketiga, pilih palet warna dengan kontras yang cukup. Gunakan tools seperti WebAIM Contrast Checker untuk memastikan rasio kontras teks minimal 4.5:1. Ini tidak hanya membantu pengguna buta warna, tapi juga mereka yang membaca di bawah sinar matahari.
- · Keempat, hindari pasangan merah-hijau sebagai pembeda utama. Jika harus menggunakannya, tambahkan simbol atau label teks. Lebih baik gunakan kombinasi seperti biru-oranye atau ungu-kuning, yang lebih mudah dibedakan oleh hampir semua jenis buta warna.
- · Kelima, libatkan pengguna buta warna dalam uji coba. Mereka akan memberikan perspektif yang tidak pernah Anda bayangkan. Bahkan satu sesi wawancara singkat bisa mengungkap celah yang tidak terlihat selama berbulan-bulan pengembangan.
Mengapa Ini Tanggung Jawab Kita Semua?
Mendesain untuk pengguna buta warna bukan sekadar pilihan estetika atau kepatuhan terhadap standar teknis ia adalah bentuk tanggung jawab etis dalam dunia digital. Dalam etika desain, setiap keputusan visual yang diambil oleh pengembang memiliki dampak sosial: ia bisa mengundang partisipasi atau menciptakan penghalang tak terlihat.
Konsep ini dikenal sebagai digital equity prinsip bahwa semua individu, terlepas dari kemampuan fisik, latar belakang, atau kondisi sosial, berhak atas akses yang setara terhadap teknologi dan informasi [3]. Ketika sistem digital hanya dirancang untuk pengguna dengan penglihatan normal, maka secara tidak langsung ia mengucilkan kelompok minoritas yang jumlahnya sebenarnya sangat signifikan (±8% pria global).
Lebih jauh lagi, desain inklusif bukan lagi kemewahan ia adalah hak dasar dalam era digital. Deklarasi Hak Asasi Manusia PBB Pasal 19 menjamin hak atas informasi, dan hal ini mencakup aksesibilitas format digital. Artinya, ketidakmampuan sistem untuk menyampaikan informasi kepada pengguna buta warna bukan hanya kegagalan teknis, tapi juga pelanggaran terhadap prinsip keadilan sosial.
Sebagai calon pengembang, kita tidak hanya bertanggung jawab atas fungsi sistem, tetapi juga atas dampak sosialnya. Teknologi terbaik adalah yang tidak meninggalkan siapa pun di belakang yang memastikan bahwa setiap klik, setiap tampilan, dan setiap interaksi dapat dinikmati oleh semua manusia, dalam segala keberagamannya [4].
Kesimpulan :
Warna adalah alat yang indah, tetapi bukan satu-satunya alat. Desain yang baik tidak memaksa pengguna untuk “melihat seperti kita”, melainkan menciptakan pengalaman yang dapat diakses oleh semua mata dalam segala kondisi.
Sebagai calon pengembang, pertanyaan yang perlu selalu diajukan adalah:
“Apakah informasi ini tetap jelas jika semua warna diubah menjadi abu-abu?”
Menurut Anda, fitur desain apa yang paling dibutuhkan agar aplikasi kampus ramah bagi pengguna buta warna?
Artikel ini ditulis sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer di Universitas Muhammadiyah Riau .
Tentang Penulis
Verdict Helsinki adalah mahasiswa Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau. Artikel ini disusun sebagai tugas mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK). Informasi lebih lanjut tentang Universitas Muhammadiyah Riau dapat diakses melalui www.umri.ac.id.
Referensi
[1] “1,2,3,4),” 2004.
[2] S. Saini, E. F. Dungga, and I. Sulistiani, “Evaluasi Pemeriksaan Tes Buta Warna Menggunakan Metode Ishihara Berbasis Google Form Menggunakan Buku Ishihara,” vol. 2, pp. 42–51, 2022, doi: 10.37311/ijpe.v2i1.15855.
[3] I. P. Putra, M. Adri, and D. Irfan, “Artificial Intelligence in Education : Opportunities and Challenges in the Transition from Industry 4 . 0 to Society 5 . 0,” vol. 5, no. 1, pp. 1–14, 2025.
[4] S. Informasi, U. Indo, G. Mandiri, M. Informatika, U. Indo, and G. Mandiri, “Sistem Pendukung Keputusan Pemilihan Siswa Terbaik Pada Sekolah Menengah Atas Life Skill Teknologi Informatika Indo Global Mandiri dengan Metode Analitical Hierarchy Process,” vol. 10, no. 1, pp. 58–63, 2019.