Ergonomi Digital: Shopee dan Kenyamanan Sehari-hari Kita

Pernah nggak sih, tangan jadi pegal banget setelah lama-lama scroll di Shopee buat cari barang diskon, atau mata capek banget baca tulisan kecil di layar sambil rebahan? Nah, pengalaman simpel kayak gini ternyata punya hubungan erat sama ergonomi digital, yaitu gimana cara aplikasi didesain biar tubuh dan fokus kita tetap nyaman.

 

Di zaman belanja online sekarang, aplikasi kayak Shopee udah jadi bagian dari rutinitas harian kita, dari cari kebutuhan sehari-hari sampe buru flash sale malam-malam. Di balik tampilan antarmuka yang penuh warna dan promo, ada satu hal penting yang sering kita lupain, yakni ergonomi digital: seberapa jauh desain aplikasi ini bantu posisi tubuh, mata, dan gerakan jari kita biar nggak cepet lelah. Di kuliah Interaksi Manusia dan Komputer di Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau, ergonomi digital dipelajari sebagai kunci buat bikin pengalaman pengguna yang sehat dan efektif. Artikel ini mau bahas gimana konsep ergonomi digital diterapin (atau kadang diabaikan) di pengalaman pakai Shopee, plus apa yang bisa dipelajari desainer interface dari situ.

Apa Itu Ergonomi Digital?

Ergonomi digital itu sebenarnya penerapan prinsip ergonomi ke penggunaan perangkat dan aplikasi, biar interaksi manusia-komputer nggak bikin beban fisik atau mental yang berlebihan. Di aplikasi mobile kayak Shopee, ergonomi digital nyentuh hal-hal kayak ukuran tombol, jarak antar elemen, posisi menu, kontras warna, sampe gimana konten diatur biar mata gampang pindai. Tujuannya simpel: bikin pengguna bisa interaksi lama tanpa cepet lelah, salah tekan, atau sakit di tangan, leher, dan mata.

Di IMK, ergonomi nggak cuma soal kursi dan meja, tapi juga pola gerakan jempol di layar, jarak pandang ke hp, sampe seberapa sering kita harus scroll panjang. Kalau desain aplikasi abaikan faktor-faktor ini, pengguna mungkin masih bisa selesaiin tugas, tapi dengan rasa nggak nyaman yang lama-lama kurangin kepuasan dan loyalitas.

Zona Jempol dan Penempatan Tombol di Shopee

Pas pakai hp dengan satu tangan, jempol punya zona "nyaman" dan "susah dijangkau", apalagi di bagian atas atau pojok yang jauh dari genggaman. Di Shopee, beberapa elemen penting kayak menu navigasi utama (Beranda, Feed, Shopee Live, Notifikasi, Saya) ditempatin di bawah layar biar gampang dijangkau jempol tanpa ganti posisi tangan. Penempatan ini bantu ergonomi digital karena kurangin kebutuhan regang jari ke area tinggi, yang bisa bikin tegang kalau diulang-ulang lama.

Tapi, beberapa komponen kayak banner promo besar di atas atau tombol kecil buat filter dan kategori tambahan kadang bikin kita harus geser tangan atau pakai dua tangan. Buat pengguna yang sering belanja sambil ngelakuin hal lain (misal sambil pegang barang atau naik angkot), desain yang maksa dua tangan ini bisa kurang ergonomis. Dari sisi desainer, ini jadi pengingat bahwa tugas paling sering (navigasi, cari produk, cek keranjang) sebaiknya selalu di zona jempol yang paling nyaman.

Visual, Teks, dan Kelelahan Mata

Selain posisi tombol, ergonomi digital juga soal gimana mata proses info di layar. Shopee pakai warna oranye kuat sebagai identitas brand, plus label kayak “Diskon”, “Gratis Ongkir”, dan “Flash Sale” yang tersebar di mana-mana. Secara psikologis ini menarik perhatian, tapi kalau terlalu padat dan kontrasnya tinggi, mata bisa cepet lelah pas telusuri banyak produk sekaligus.

Di sisi lain, Shopee punya beberapa elemen yang dukung kenyamanan, kayak: ukuran gambar produk yang cukup besar, rating bintang yang mudah kelihatan, dan harga yang ditampilkan dengan huruf relatif besar. Ini bantu pemindaian cepat tanpa harus zoom layar bolak-balik. Buat desain yang lebih ergonomis, desainer bisa belajar dari sini dengan jaga keseimbangan antara info penting dan elemen dekoratif, misal kurangin teks yang nggak perlu dan kasih jarak (white space) cukup di antara komponen.

Beban Gerakan: Scroll, Tap, dan Pencarian

Beban gerakan itu seberapa banyak interaksi fisik yang dibutuhin pengguna buat capai tujuan, kayak berapa kali harus scroll, tap, atau back. Di Shopee, cari satu produk bisa melibatkan banyak langkah: buka app, ketik di search bar, pilih kategori, atur filter, scroll panjang, lalu keluar-masuk halaman detail. Kalau setiap langkah nggak dirancang baik, jempol bisa cepet lelah, apalagi hp layarnya besar.

Beberapa fitur Shopee sebenarnya bantu kurangin beban gerakan, kayak: riwayat pencarian yang bisa langsung pilih ulang, rekomendasi produk serupa, dan filter harga yang jelas. Tapi, munculnya banyak pop-up promo, notif di dalam app, dan tab tambahan juga bisa bikin kita tap lebih banyak yang nggak langsung dukung tujuan. Secara ergonomis, desainer sebaiknya minimalkan interaksi nggak perlu dan fokus ke alur utama: dari cari ke beli dengan langkah seefisien mungkin.

Contoh Praktis Ergonomi Digital di Shopee

Beberapa contoh konkret penerapan (dan tantangan) ergonomi digital di Shopee antara lain:

  1. Halaman beranda yang tampilin kategori produk dengan ikon besar biar gampang dikenali tanpa baca detail teks, bantu pengguna yang lagi bergerak atau cuma sempet lihat sekilas.
  2. Tombol “Tambahkan ke Keranjang” dan “Beli Sekarang” yang dibuat ukuran cukup besar dan kontras di halaman produk, kurangin risiko salah tekan pas jempol gerak cepat.
  3. Area ulasan pengguna yang panjang dan butuh scroll banyak, yang buat sebagian orang tangan cepet lelah kalau mau baca review lebih dalam sebelum putusin beli.

Dengan liat contoh-contoh ini, mahasiswa IMK di Universitas Muhammadiyah Riau bisa kritik gimana aplikasi populer kayak Shopee masih punya ruang perbaikan dari sisi ergonomi digital.

Tips Aplikatif untuk Desainer UI/UX

Dari pengalaman kecil pakai Shopee, ada beberapa tips praktis yang bisa diterapin pas desain antarmuka mobile yang ergonomis:

  1. Posisikan fungsi utama di bawah layar, dalam jangkauan jempol, terutama buat navigasi, pencarian, dan aksi utama kayak “Beli” atau “Kirim”.
  2. Pakai ukuran teks dan tombol yang cukup besar, dengan jarak antar elemen nggak terlalu rapat, biar hindari salah tekan dan kurangin tegang mata.
  3. Batasi jumlah pop-up dan elemen distraksi yang maksa tap tambahan di luar alur utama.
  4. Kasih opsi mode gelap atau pengaturan tampilan yang dukung kenyamanan di cahaya rendah, biar mata nggak cepet lelah.
  5. Uji antarmuka dengan skenario nyata (misal sambil berdiri di bus atau pegang barang lain) biar desain beneran nyaman di kehidupan sehari-hari.

Tips ini bisa jadi panduan praktis buat desainer muda, termasuk mahasiswa Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Riau, dalam integrasi ergonomi digital ke setiap tahap desain.

Ergonomi digital nggak cuma teori soal posisi duduk dan jarak layar, tapi langsung sentuh gimana tombol, teks, warna, dan alur interaksi di aplikasi kayak Shopee pengaruh kenyamanan tubuh dan fokus kita. Dengan perhatiin zona jempol, beban gerakan, dan kelelahan mata, desainer bisa bikin pengalaman belanja online yang lebih ramah buat pengguna yang pakai berjam-jam tiap minggu. Artikel ini ditulis sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer di Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau (www.umri.ac.id), dan diharap bisa inspirasi mahasiswa buat selalu masukin aspek ergonomi di setiap rancangan interface yang dibuat.