Hick’s Law: Mengapa Terlalu Banyak Pilihan Bisa Menjadi Masalah
Hick’s Law: Mengapa Terlalu Banyak
Pilihan Bisa Menjadi Masalah
Ellgy Dwinasukha 240401095
Universitas Muhammadiyah Riau, Indonesia
Correspondence: E-mail: 240401095@student.umri.ac.id,
Lead / Hook
Pernah tidak, niatnya cuma mau cari satu video di YouTube atau beli paket internet, tapi malah bengong karena terlalu banyak pilihan? Bukannya cepat menentukan, kita justru jadi ragu dan lama mengambil keputusan. Fenomena sederhana ini ternyata sudah lama dijelaskan dalam teori psikologi yang dikenal sebagai -Hick’s Law (Liem, 2024)
PENDAHULUAN
Di era aplikasi serba lengkap seperti sekarang, pengembang sering berlomba menambahkan berbagai fitur dan menu agar produknya terlihat unggul. Namun, semakin banyak pilihan yang ditampilkan, semakin besar pula kemungkinan pengguna merasa kewalahan saat harus menentukan apa yang ingin dilakukan
Dalam kajian Interaksi Manusia dan Komputer (IMK), kondisi ini berkaitan erat dengan cara manusia memproses informasi. Hick’s Law menjelaskan bahwa banyaknya pilihan dapat memperlambat proses berpikir pengguna, sehingga berdampak langsung pada kenyamanan dan efektivitas penggunaan aplikasi
Isi Utama
Memahami Hick’s Law dengan Cara Sederhana
Hick’s Law menyatakan bahwa semakin banyak pilihan yang tersedia, semakin lama waktu yang dibutuhkan seseorang untuk mengambil keputusan. Artinya, otak manusia tidak selalu bekerja lebih cepat ketika diberikan banyak opsi sekaligus (Liem, 2024)
Dalam konteks aplikasi digital, hukum ini menjelaskan mengapa menu yang terlalu panjang atau pilihan yang ditampilkan sekaligus sering membuat pengguna bingung. Bukannya membantu, desain seperti ini justru memperberat proses berpikir pengguna (Wisesa et al., 2025)
Beban Kognitif: Ketika Otak Terlalu Dipaksa
Setiap pengguna memiliki batas kemampuan dalam memproses informasi. Ketika aplikasi menyajikan terlalu banyak pilihan, otak harus bekerja lebih keras untuk membandingkan satu opsi dengan opsi lainnya (Liem, 2024)
Penelitian di bidang UI/UX menunjukkan bahwa beban kognitif yang tinggi dapat membuat pengguna cepat lelah, mudah salah memilih, bahkan akhirnya menutup aplikasi tanpa menyelesaikan tujuan awalnya (Daffa Khairi Addin et al., 2025)
Hick’s Law dalam Desain Aplikasi Saat Ini
Desainer UI/UX modern tidak lagi berfokus pada “sebanyak mungkin fitur”, melainkan pada penyederhanaan pilihan. Opsi yang jarang digunakan biasanya disembunyikan atau dikelompokkan agar tidak langsung membebani pengguna (Wisesa et al., 2025)
Pendekatan seperti user-centered design dan evaluasi heuristik digunakan untuk memastikan jumlah pilihan yang ditampilkan tetap sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan pengguna, bukan sekadar keinginan pengembang (Hidayat & Raharja, 2025)
Contoh / Ilustrasi
Contoh 1: Youtube
YouTube sebenarnya memiliki jutaan video, tetapi pengguna tidak dipaksa melihat semuanya sekaligus. Konten ditampilkan berdasarkan rekomendasi dan minat pengguna, sehingga pilihan terasa lebih sedikit dan relevan (Daffa Khairi Addin et al., 2025)
Tampilan Home Youtube .

Strategi ini sejalan dengan Hick’s Law, karena YouTube membantu mempercepat pengambilan keputusan dengan menyaring pilihan sebelum ditampilkan ke pengguna (Liem, 2024)
Contoh 2: Aplikasi Bima (3)
Tampilan Home Tampilan Membeli Paket Tampilan Akun



Aplikasi Bima menyediakan banyak paket internet dengan variasi harga dan kuota. Bagi pengguna baru, kondisi ini sering menimbulkan kebingungan karena harus membandingkan banyak pilihan sekaligus
(Daffa Khairi Addin et al., 2025)
Situasi tersebut menunjukkan bahwa terlalu banyak opsi tanpa penyederhanaan dapat memperlambat pengambilan keputusan pengguna, seperti yang dijelaskan dalam Hick’s Law (Liem, 2024)
Contoh 3: Aplikasi Telegram
Telegram dikenal sebagai aplikasi pesan yang kaya fitur, mulai dari channel, grup besar, bot, hingga pengaturan privasi yang sangat detail. Bagi pengguna baru, banyaknya menu dan opsi lanjutan ini sering terasa membingungkan karena semuanya tersedia hampir bersamaan di dalam aplikasi (Daffa Khairi Addin et al., 2025)
Jika dilihat dari perspektif Hick’s Law, Telegram memberikan terlalu banyak pilihan tanpa penyaringan awal, sehingga pengguna perlu waktu lebih lama untuk memahami fungsi setiap menu sebelum dapat menggunakannya secara optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa fleksibilitas tinggi tidak selalu berarti kemudahan penggunaan, terutama bagi pengguna yang baru pertama kali mencoba aplikasi(Liem, 2024)
Tips Aplikatif Menerapkan Hick’s Law
Agar aplikasi tidak membingungkan, beberapa langkah sederhana berikut bisa diterapkan oleh pengembang maupun desainer (Daffa Khairi Addin et al., 2025)
· Kurangi pilihan utama dalam satu layer
· Kelompokkan menu berdasarkan fungsi
· Tampilkan opsi lanjutan hanya jika diperlukan
· Gunakan pilihan default untuk membantu pengguna
· Lakukan pengujian usability secara rutin
KESIMPULAN
Hick’s Law menunjukkan bahwa terlalu banyak pilihan bukan berarti memberikan kebebasan, tetapi justru bisa menjadi hambatan bagi pengguna. Dengan membatasi dan menyusun pilihan secara tepat, aplikasi dapat membantu pengguna mengambil keputusan dengan lebih cepat dan nyaman(Liem, 2024)
Memahami prinsip ini penting bagi mahasiswa dan calon pengembang agar tidak hanya membuat aplikasi yang lengkap, tetapi juga mudah digunakan.(Aprilia et al., 2024)
Call To Action
Menurut Anda, aplikasi apa yang paling bikin bingung karena terlalu banyak pilihan?
Yuk, bagikan pendapat Anda dan diskusikan bersama.
Branding Universitas Muhammadiyah Riau
Artikel ini ditulis sebagai bagian dari pembelajaran Mata Kuliah Interaksi Manusia dan Komputer di Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau. Untuk informasi lebih lanjut tentang program studi kami, kunjungi https://www.umri.ac.id
Daftar Pustaka
1. Aprilia, N. A., Faroqi, A., & Mukaromah, S. (2024). Evaluasi Pengalaman Pengguna Aplikasi Mobile Perpustakaan Digital Ipusnas Menggunakan Metode Ux Honeycomb. JSiI (Jurnal Sistem Informasi), 11(2), 97–103. https://doi.org/10.30656/jsii.v11i2.9196
2. Daffa Khairi Addin, M., Febria Wardhani, D., Antasari Banjarmasin, U., Kabupaten Banjar, B., & Jendral Ahmad Yani, J. K. (2025). Efektivitas User Interface (UI) dan User Experience (UX) dalam Aplikasi Mobile. Inovasi Pembangunan : Jurnal Kelitbangan, 13(1), 1–11. http://journalbalitbangdalampung.org
3. Hidayat, & Raharja. (2025). Redesign UI/UX Aplikasi Mobile Sikuat Menggunakan Metode User Centered Design (UCD). Jnatia, 3(3), 2025.
4. Liem, V. (2024). Analisis User Interface Website Garuda Indonesia Berdasarkan Prinsip Hick’s Law. ArtComm, 7(2), 175–185. https://doi.org/10.37278/artcomm.v7i2.947
5. Wisesa, M., Tyas, S., & Rahmansyah, N. (2025). Penerapan Metodode Heuristic Evaluation Untuk Evaluasi UI/UX Official Website JKT48. Jurnal Komputer, Informasi Dan Teknologi, 5(1), 14. https://doi.org/10.53697/jkomitek.v5i1.2666