Hick’s Law: Terlalu Banyak Pilihan di Tokopedia Bikin Pengguna Lama Putusin?
Pernah nggak sih, buka Tokopedia cuma mau beli satu barang aja, tapi akhirnya malah habis waktu lama banget cuma buat pilih dari sekian banyak toko dan produk? Nah, situasi kayak gini bukan cuma "kebanyakan mikir" biasa, tapi contoh nyata gimana terlalu banyak pilihan bisa bikin kita lambat banget ambil keputusan. Fenomena ini di dunia desain antarmuka disebut Hick’s Law.
Pendahuluan
Di bidang Interaksi Manusia dan Komputer (IMK), desainer antarmuka nggak cuma mikirin tampilan yang keren, tapi juga gimana caranya biar pengguna bisa ambil keputusan cepat dan nyaman. Salah satu prinsip penting yang sering dibahas adalah Hick’s Law, yaitu hukum yang bilang kalau makin banyak pilihan yang dihadapkan ke pengguna, makin lama waktu yang dibutuhin buat ambil keputusan.
Di kuliah IMK di Universitas Muhammadiyah Riau, mahasiswa belajar gimana prinsip psikologi kognitif kayak Hick’s Law bisa pengaruh desain aplikasi sehari-hari, termasuk marketplace populer kayak Tokopedia (kunjungi www.umri.ac.id). Artikel ini mau bahas gimana terlalu banyak pilihan di Tokopedia bisa jadi masalah buat pengguna, sekaligus tips buat desainer biar pengalaman belanja tetap enak dan nggak bikin pusing.
Apa Sih Hick’s Law Itu?
Hick’s Law, atau juga dikenal sebagai Hick–Hyman Law, bilang kalau waktu yang dibutuhin seseorang buat ambil keputusan bakal makin panjang seiring makin banyak pilihan yang ada. Sederhananya, makin banyak opsi, makin lama otak kita proses dan bandingin tiap pilihan sebelum pilih yang paling pas.
Di konteks desain antarmuka, Hick’s Law bantu desainer paham kalau nampilin terlalu banyak opsi sekaligus bisa bikin beban kognitif pengguna. Bukan berarti pilihan harus dibatasin ekstrem, tapi cara ngeatur, ngelompokkan, dan nampilin pilihan jadi kunci biar pengguna nggak cepet lelah atau frustrasi.
Hick’s Law di Pengalaman Pengguna Tokopedia
Sebagai salah satu marketplace terbesar di Indonesia, Tokopedia tawarin jutaan produk dengan ribuan kategori, filter, dan opsi toko. Di satu sisi, banyak pilihan ini bikin kita bebas dan punya kesempatan nemu produk yang paling cocok. Tapi di sisi lain, ini bisa picu "paradox of choice" yang bikin pengguna susah banget ambil keputusan.
Misalnya, pas ngetik kata kunci kayak "headset gaming" di Tokopedia, kita langsung dihadapkan sama ratusan ribu produk dengan variasi harga, merek, rating, dan promo. Tanpa pengaturan yang bagus, situasi ini bisa bikin proses pilih makin lama karena kita harus bandingin terlalu banyak info sekaligus, yang langsung ngegambarin efek Hick’s Law di dunia nyata.
Contoh Nyata Hick’s Law di Tokopedia
- Hasil Pencarian dengan Terlalu Banyak Produk
Pas cari produk umum kayak "sepatu pria", Tokopedia nampilin jumlah produk yang super banyak. Kalau nggak pake filter, kita harus scroll panjang dan bandingin banyak kartu produk sekaligus. Ini bikin waktu ambil keputusan makin panjang karena otak terus nimbang: harga, rating, lokasi toko, ongkir, dan diskon. - Filter dan Sortir yang Berlapis-lapis
Tokopedia punya banyak filter kayak kisaran harga, lokasi, tipe produk, kondisi barang, metode pengiriman, dan lainnya. Filter ini bantu sederhanain pilihan, tapi kalau ditampilin terlalu banyak di satu layar tanpa prioritas jelas, pengguna bisa bingung pilih filter mana dulu. Ini tambah beban kognitif dan bikin proses ambil keputusan makin lama. - Variasi Produk dalam Satu Halaman Detail
Di satu halaman produk, sering ada banyak variasi: warna, ukuran, paket bundling, sampai pilihan voucher dan metode pengiriman. Kalau semua opsi ditampilin tanpa struktur yang bagus, kita butuh waktu ekstra buat paham kombinasi yang paling untung. Ini contoh konkret gimana terlalu banyak pilihan di satu langkah bisa perpanjang waktu sebelum kita tekan tombol "Beli".

Strategi Desain Tokopedia Buat Kurangin Dampak Hick’s Law
Meski tawarin banyak pilihan, Tokopedia juga punya strategi desain buat kurangin efek negatif Hick’s Law.
- Penggunaan kategori dan sub-kategori
Produk dikelompokkan dalam kategori dan sub-kategori biar pengguna nggak lihat semua jenis barang sekaligus, tapi bisa nyempitkan pilihan bertahap sesuai kebutuhan. Cara ini bantu pecah keputusan besar jadi beberapa keputusan kecil yang lebih gampang. - Filter yang bantu saring opsi
Fitur filter kayak “Terlaris”, “Ulasan terbaik”, “Harga termurah”, dan “Lokasi terdekat” bantu kurangin jumlah produk yang perlu dipertimbangin. Dengan nyempitkan ruang pilihan, waktu ambil keputusan ikut berkurang. - Penonjolan informasi kunci
Info penting kayak rating bintang, jumlah ulasan, dan label “Official Store” atau “Star Seller” ditonjolin di kartu produk. Ini bikin pengguna lebih cepet eliminasi produk yang kurang terpercaya tanpa harus buka banyak halaman.
Tips Praktis Buat Desainer yang Mau Terapin Hick’s Law
Dari kasus Tokopedia, ada beberapa pelajaran praktis yang bisa desainer terapin saat rancang antarmuka:
- Kurangin jumlah pilihan di satu langkah kritis
Di momen penting kayak checkout atau pilih metode pembayaran, tampilin opsi yang paling umum dan relevan dulu. Opsi lanjutan bisa disembunyiin di menu “Lihat lainnya” biar nggak numpuk pilihan di satu layar. - Kelompokkan pilihan jadi kategori yang jelas
Daripada nampilin 20 opsi sejajar, lebih baik kelompokkan jadi beberapa kategori besar. Pengguna bakal ngerasa keputusan lebih ringan karena dilakukan bertahap, bukan sekaligus. - Pakai default dan rekomendasi pintar
Nampilin rekomendasi kayak “Produk terlaris” atau “Dipilih banyak orang” bisa bantu pengguna yang bingung dengan banyak alternatif. Default yang dipilih sistem tapi masih bisa diganti bantu kasih titik awal yang kurangin kecemasan ambil keputusan. - Prioritaskan informasi yang benar-benar dibutuhin buat putusin
Jangan isi layar dengan semua detail sekaligus. Tampilin info kunci dulu, baru kasih detail tambahan kalau pengguna mau gali lebih dalam. Ini bantu kurangin beban kognitif dan jaga fokus.
Hick’s Law ingetin kita kalau makin banyak pilihan yang dihadapi pengguna, makin lama mereka ambil keputusan, dan ini super relevan di pengalaman belanja di Tokopedia. Banyaknya produk, filter, dan variasi di satu platform bisa jadi pedang bermata dua: kasih kebebasan sekaligus potensi bikin bingung kalau nggak dikelola baik.
Dengan terapin prinsip kayak ngelompokkan pilihan, filter efektif, rekomendasi pintar, dan fokus ke info paling penting, desainer bisa kurangin dampak negatif terlalu banyak pilihan dan bikin proses belanja lebih cepat serta menyenangkan. Artikel ini dibuat sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer di Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau (www.umri.ac.id).