POUR: Fondasi Aksesibilitas Web yang Perlu Kamu Ketahui

Bayangkan teman yang tidak bisa lihat membuka toko online untuk beli barang, tapi gambar produk tidak punya deskripsi dia hanya dengar pembaca layar bilang "gambar". Atau teman yang tidak bisa pakai mouse, coba tekan Tab untuk navigasi halaman, tapi fokus menghilang entah ke mana. Di Indonesia, sekitar 26 juta orang dengan disabilitas hadapi tantangan seperti ini setiap hari saat pakai internet. Padahal, ada kerangka kerja sederhana bernama POUR yang bisa ubah semuanya jadi inklusif. Dalam mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK) di Universitas Muhammadiyah Riau, kita pelajari konsep ini untuk desain digital yang benar-benar terbuka untuk semua.

PENGANTAR

Mengenal POUR: Empat Pilar Aksesibilitas Web

Aksesibilitas web bukan cuma tentang membuat situs bisa diakses, tapi buat situs yang benar-benar usable oleh siapa saja tanpa memandang kemampuan mereka. Pada 1999, organisasi W3C (World Wide Web Consortium) mulai susun panduan standar bernama WCAG (Web Content Accessibility Guidelines). Panduan ini terus berkembang, dengan versi terkini WCAG 2.1 yang punya empat prinsip utama yang diingat lewat akronim POUR singkatan menarik yang juga bermakna "tuangkan" dalam bahasa Inggris, seolah-olah kita tuang aksesibilitas ke dalam desain digital.

Perceivable (Terlihat, Terdengar, Terasa): Semua informasi harus presentable dalam cara yang bisa dipersepsi pengguna melalui mata, telinga, atau sentuhan. Ini berarti gambar perlu punya deskripsi teks (alt text) agar pembaca layar bisa baca untuk pengguna buta. Video harus ada subtitle atau transkrip untuk pengguna tuli. Warna teks harus cukup kontras dengan latar belakang agar pengguna dengan penglihatan lemah bisa baca. Intinya, tidak boleh ada konten "invisible" bagi sekelompok orang.

Operable (Bisa Dijalankan): Semua fitur harus bisa dikerjakan dengan berbagai cara keyboard, suara, sentuhan. Pengguna yang tidak bisa pakai mouse harus bisa navigasi lewat tombol Tab. Tombol harus cukup besar untuk tangan yang lemah. Tidak boleh ada konten berkedip cepat yang bisa trigger kejang. Fokus keyboard harus terlihat jelas dan tidak boleh terjebak di suatu area.

Understandable (Bisa Dipahami): Teks harus pakai bahasa jelas, bukan jargon teknis rumit. Layout harus konsisten kalau menu ada di atas, jangan tiba-tiba di bawah halaman lain. Pesan kesalahan harus jelas jelaskan apa masalahnya dan gimana cara perbaiki. Fitur harus dapat diprediksi sehingga pengguna tidak bingung.

Robust (Tangguh/Kuat): Situs harus dibangun dengan kode bersih dan standar, sehingga bisa dibaca semua perangkat (desktop, ponsel, tablet), semua pembaca layar, dan semua perangkat bantu. Kode yang rapi memastikan konten tetap aksesibel di masa depan.

Studi Kasus :

  1. Shopee Pasar Daring Terbesar Indonesia

Shopee, sebagai marketplace terbesar di Indonesia dengan jutaan pengguna, jadi contoh bagus untuk lihat praktik POUR. Penelitian terbaru pakai tools TAW dan aXe DevTools menunjukkan Shopee mencapai level AA (tingkat menengah) dalam WCAG compliance artinya situs ini sudah cukup baik, tapi masih ada ruang perbaikan.

Di kategori Perceivable, Shopee punya masalah utama dengan alt text dan kontras warna. Banyak gambar produk yang tidak punya deskripsi yang cukup baik pembaca layar cuma bisa baca "gambar" tanpa tahu produk apa. Kontras beberapa teks dengan latar belakang juga tidak memenuhi standar 4.5:1 untuk teks reguler, sehingga pengguna dengan penglihatan lemah kesulitan baca harga atau deskripsi penting.

Di kategori Operable, masalah terbesar adalah urutan fokus keyboard dan aksesibilitas keyboard secara umum. Beberapa elemen tombol tidak bisa diakses dengan Tab, atau fokus meloncat-loncat tidak sesuai alur logis halaman. Ini membuat pengguna yang hanya bisa pakai keyboard kesulitan navigasi keranjang belanja atau checkout padahal aktivitas ini krusial untuk e-commerce.

Namun, Shopee sudah bagus di Understandable dan Robust. Navigasi secara umum konsisten, heading terstruktur dengan baik, dan kode sudah lumayan bersih. Ini berarti 50% konten di Shopee bisa diakses dan dimanfaatkan dengan relatif mudah oleh penyandang disabilitas.

    2.TikTok : Platform Video Pendek yang Adaptif

TikTok, platform video yang booming di kalangan anak muda Indonesia, menunjukkan pendekatan berbeda dalam aksesibilitas. TikTok sudah integrasikan beberapa fitur POUR dengan cukup baik, terutama di sisi Operable dan Understandable.

Di kategori Operable, TikTok punya "feed navigation buttons" yang bekerja saat pembaca layar aktif (TalkBack di Android atau VoiceOver di iOS). Tombol ini memudahkan pengguna buta untuk pause, play, dan pindah antar video jauh lebih mudah dari harus swipe manual. Ukuran tombol di bawah layar juga gampang dijangkau ibu jari saat pegang HP vertikal, jadi hemat gerakan tangan.

Di kategori Understandable, TikTok tawarkan text size adjustment biar pengguna dengan penglihatan lemah bisa perbesar teks sesuai kebutuhan. Dark mode option membantu mengurangi eye strain, dan fitur "remove photosensitive videos" melindungi pengguna yang sensitif terhadap efek berkedip.

Namun, TikTok punya kelemahan fatal di Perceivable. Video tidak punya alt text atau audio description otomatis pengguna buta cuma bisa dengar dialog kalau ada, tapi tidak tahu apa yang terjadi di layar. Auto captions ada, tapi masih optional dan creator tidak wajib pakai. Ini jadi hambatan besar karena konten visual TikTok adalah inti aplikasinya. Selain itu, TikTok izinkan creator pilih warna teks dan latar yang asal-asalan, sehingga beberapa video punya kontras rendah yang susah dibaca.

KESIMPULAN

POUR bukan sekadar istilah teknis atau checklist kepatuhan hukum. Ini adalah filosofi bahwa teknologi harus melayani semua orang. Saat situs dibangun dengan persepsi jelas (alt text ada, kontras bagus), operasi mudah (keyboard bekerja, fokus terlihat), pemahaman sederhana (bahasa jelas, navigasi konsisten), dan kode tangguh (semantic, valid, teruji), situs itu jadi jembatan bukan hambata untuk orang dengan berbagai kebutuhan.

Di Indonesia dengan 26 juta penyandang disabilitas dan 213 juta pengguna internet, terapkan POUR bisa buka peluang ekonomi, pendidikan, dan partisipasi sosial yang belum pernah ada. Setiap situs aksesibel adalah satu langkah menuju digital yang benar-benar inklusif untuk semua.

Dimas Syahreza merupakan mahasiswa Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Riau. Artikel ini ditulis sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK). Informasi lebih lanjut mengenai Universitas Muhammadiyah Riau dapat diakses melalui www.umri.ac.id.

Referensi

  1. World Wide Web Consortium (W3C). Web Content Accessibility Guidelines 2.1 (WCAG 2.1)
  2. Raharjo, C. A., dkk. (2023). Analisis Aksesibilitas Website Shopee Indonesia menggunakan WCAG. Comdent: Communication Student Journal
  3. Penelitian Aksesibilitas TikTok. Accessibility Features dan Limitations 2025
  4. Badan Pusat Statistik Indonesia. Statistik Penyandang Disabilitas Indonesia 2021