Usability Testing: Panduan Praktis untuk Mahasiswa Informatika Pemula
Pernahkah kamu membuka sebuah aplikasi atau website, tetapi justru bingung harus mengklik apa terlebih dahulu? Tombol checkout tidak langsung terlihat, form pendaftaran terasa berbelit-belit, atau tombol “lanjut” malah tersembunyi di bagian yang tidak terduga. Situasi seperti ini sangat umum dialami pengguna, bahkan pada aplikasi yang secara fitur sebenarnya sudah lengkap.
Menariknya, banyak produk digital gagal bukan karena teknologinya buruk atau fiturnya kurang canggih, melainkan karena pengguna kesulitan menyelesaikan tugas sederhana. Pengguna tidak sabar, lalu pergi begitu saja. Di sinilah pentingnya memperhatikan kemudahan penggunaan (usability), bukan hanya sekadar fungsi.
Salah satu cara yang paling sistematis untuk mencegah masalah tersebut adalah melalui usability testing. Metode ini membantu pengembang memahami bagaimana pengguna nyata berinteraksi dengan sistem. Bagi mahasiswa Universitas Muhammadiyah Riau sebagai calon pengembang perangkat lunak, kemampuan melakukan usability testing menjadi kompetensi penting agar produk digital yang dibuat tidak hanya berjalan, tetapi juga nyaman digunakan.
Apa yang Dimaksud Usability Testing?
Usability testing adalah metode evaluasi di mana pengguna yang mewakili target pengguna diminta untuk menyelesaikan tugas-tugas tertentu pada sebuah sistem, sementara peneliti atau pengembang mengamati prosesnya. Yang diamati bukan hanya apakah tugas berhasil diselesaikan, tetapi juga kesalahan yang terjadi, waktu penyelesaian, serta komentar atau kebingungan yang diungkapkan pengguna.
Tujuan utama usability testing meliputi:
- Menemukan masalah usability seperti kebingungan navigasi, kesalahan penggunaan, atau hambatan dalam alur tugas.
- Mengukur seberapa efektif, efisien, dan memuaskan sebuah antarmuka digunakan.
- Memberikan dasar pengambilan keputusan desain yang berbasis data, bukan sekadar asumsi pengembang.
Usability testing berbeda dengan pengujian fungsional. Pengujian fungsional berfokus pada pertanyaan “Apakah fitur bekerja sesuai spesifikasi?”, sedangkan usability testing menanyakan “Apakah pengguna dapat menggunakan fitur tersebut dengan mudah tanpa frustrasi?”. Keduanya sama-sama penting, tetapi usability testing berfokus langsung pada pengalaman pengguna.
Jenis Usability Testing yang Perlu Dikenal Pemula
Bagi pemula, usability testing tidak selalu harus rumit. Beberapa jenis berikut paling sering digunakan dan relatif mudah diterapkan:
Moderated vs Unmoderated
1) Moderated usability testing dilakukan dengan pendampingan fasilitator yang memandu sesi, baik secara langsung maupun melalui video call. Metode ini cocok untuk menggali alasan di balik perilaku pengguna.
2) Unmoderated usability testing dilakukan tanpa pendampingan langsung. Peserta mengerjakan tugas secara mandiri dan aktivitasnya direkam menggunakan alat bantu daring.
Remote vs In-Person
1) Remote testing dilakukan secara jarak jauh menggunakan Zoom, Google Meet, atau platform usability testing. Metode ini lebih fleksibel dan hemat biaya.
2) In-person testing dilakukan secara tatap muka di satu lokasi, sehingga pengamat dapat mengontrol lingkungan pengujian dengan lebih baik.
Formatif vs Sumatif
1) Formative testing dilakukan di tahap awal atau selama pengembangan untuk memperbaiki desain secara iteratif.
2) Summative testing dilakukan di akhir pengembangan untuk mengukur tingkat usability menggunakan metrik atau skor tertentu.
Sebagai contoh, mahasiswa dapat menguji prototipe aplikasi tugas akhir secara remote dengan melibatkan lima teman sekelas melalui video call, lalu mencatat kendala yang mereka alami.
Langkah Sederhana Melakukan Usability Testing
Untuk pemula, usability testing dapat dilakukan dengan langkah-langkah sederhana berikut:
Menentukan tujuan dan pertanyaan riset
Tujuan harus jelas, misalnya: “Apakah pengguna baru dapat menyelesaikan proses pendaftaran akun tanpa bantuan?” atau “Bagian mana dari alur checkout yang paling membingungkan?”.
Memilih tugas yang relevan
Tugas harus mencerminkan aktivitas nyata pengguna. Pada aplikasi e-commerce, misalnya: mencari produk, menambahkan ke keranjang, dan menyelesaikan pembayaran.
Instruksi tugas sebaiknya tidak terlalu mengarahkan, contohnya: “Tunjukkan bagaimana Anda akan membeli kaos dengan harga di bawah seratus ribu rupiah.”
Menentukan peserta dan skenario
Jumlah peserta tidak harus banyak. Sekitar lima orang yang mewakili pengguna nyata sudah cukup untuk menemukan sebagian besar masalah usability. Tentukan juga konteks penggunaan, seperti menggunakan laptop di rumah atau smartphone.
Menjalankan sesi dan mengamati
Peserta diminta untuk think-aloud, yaitu menjelaskan apa yang mereka pikirkan saat menggunakan sistem. Pengamat mencatat bagian yang membuat pengguna berhenti lama, kembali ke halaman sebelumnya, atau salah klik.
Menganalisis temuan dan membuat rekomendasi
Masalah dikelompokkan dan diberi tingkat keparahan (ringan, sedang, kritis). Dari sini dibuat rekomendasi konkret, seperti mengubah posisi tombol, menyederhanakan teks, atau memperbaiki urutan langkah.
Melakukan perbaikan dan pengujian ulang
Usability testing bersifat iteratif. Setelah desain diperbaiki, pengujian dilakukan kembali untuk melihat apakah terjadi peningkatan pengalaman pengguna.
Contoh Penerapan Usability Testing pada Aplikasi Populer
Di Indonesia, usability testing telah banyak diterapkan pada berbagai produk digital. Salah satu contoh adalah penelitian pada website e-commerce UMKMBULELENG.COM yang menggunakan metode System Usability Scale (SUS) untuk mengukur kepuasan pengguna dan memastikan website mudah digunakan.
Contoh lain adalah evaluasi ulang desain aplikasi Shopee, di mana perbaikan antarmuka berdasarkan hasil usability testing terbukti meningkatkan efektivitas, efisiensi, serta skor kepuasan pengguna (SUS).
Pendekatan serupa dapat diterapkan oleh mahasiswa pada mata kuliah IMK, misalnya dengan menguji prototipe aplikasi kepada teman sekelas atau pengguna target, lalu memperbaiki desain berdasarkan data hasil pengujian.
Mengapa Usability Testing Penting bagi Mahasiswa Informatika UMRI?
Mahasiswa Informatika tidak hanya dipersiapkan sebagai penulis kode, tetapi juga sebagai calon pengembang sistem, UI/UX designer, maupun QA engineer yang bertanggung jawab terhadap pengalaman pengguna. Produk digital yang baik adalah produk yang mudah dipahami dan digunakan.
Pada mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer (IMK) di Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau, usability testing menjadi jembatan antara teori dan praktik. Mahasiswa belajar tidak hanya merancang antarmuka, tetapi juga mengevaluasinya secara langsung dengan pengguna.
Kemampuan merancang dan menjalankan usability testing menjadi nilai tambah saat mengerjakan proyek, mengikuti program magang, maupun memasuki dunia kerja.
Artikel ini ditulis sebagai bagian dari pembelajaran mata kuliah Interaksi Manusia dan Komputer di Program Studi Teknik Informatika, Universitas Muhammadiyah Riau (www.umri.ac.id) yang menekankan pentingnya evaluasi usability dalam setiap pengembangan produk digital.
Usability testing membantu pengembang menemukan masalah nyata yang dialami pengguna, mengukur seberapa mudah sistem digunakan, dan memberikan dasar yang kuat untuk perbaikan desain. Metode ini tidak harus rumit atau mahal.
Bagi pemula, pengujian sederhana dengan beberapa pengguna sudah sangat bermanfaat untuk meningkatkan kualitas antarmuka. Yang terpenting adalah kemauan untuk mendengarkan pengguna dan memperbaiki desain secara berkelanjutan.
Sebagai pengembang pemula, langkah kecil seperti mengundang beberapa pengguna untuk mencoba prototipe dan mendengarkan komentar mereka dapat menjadi titik awal membangun budaya desain yang berpusat pada manusia.
Referensi
https://en.wikipedia.org/wiki/Usability_testing
https://www.geeksforgeeks.org/blogs/usability-testing-in-ux-design/